Olah Rasa, Antara Kelebihan dan Kekurangan Diri

Minggu, 7 Maret 2010 dalam suatu surat kabar Pikiran Rakyat terdapat suatu artikel yang menarik berhubungan dengan bagaimana mengolah kelebihan dan kekurangan diri. Salah satu hal yang dibahas adalah berhubungan dengan introspeksi diri.

As we know, in some condition, kita sering dituntut untuk melakukan introspeksi diri baik itu oleh lingkungan eksternal atau memang karena kesadaran sendiri. Selain meneliti kesalahan pada masa lalu yang mungkin merupakan kelemahan kita, dalam kesempatan tersebut, juga bisa dihitung kekuatan kita yang mampu menjadi senjata dalam memecahkan masalah atau menangkap peluang pada masa depan. Jika dalam dunia bisnis atau industri hal ini biasa dikenal dengan analisis portofolio seperti metode TOWS (Threat, Opportunity, Weakness, and Strenght).

Inferioritas dan Superioritas

Dalam beberapa kasus, introspeksi diri ini memunculkan efek samping. Sebagai contohnya memunculkan sikap yang merasa terjebak dalam kondisi inferioritas, atau merasa memiliki banyak sekali kelemahan. Namun pada kasus lain ada juga yang terperangkap dalam jiwa superioritas karena merasa begitu yakin dengan kekuatan yang dimilikinya. Based on my experience hal ini wajar dan lumrah karena lahir dari latar belakang pribadi yang berbeda-beda, sehingga tiap individu memiliki pola pandang yang berbeda. Efek samping tersebut muncul sebagai akibat atas pemahaman hal mendasar yang menjadi landasan hidup individu tersebut.

Menurut konsultan sumber daya manusia, Nia Juliawati, bagaimana seseorang menyikapi kekurangan dan kelebihan diri terkait dengan intrapersonal intelligence atau kemampuan untuk memahami diri sendiri. “Mereka yang memiliki intrapersonal intelligence yang baik, mengetahui betul siapa dirinyadan apa yang diinginkannya, ” ucap Vice President Logic Management Consulting yang juga dosen Universitas Parahyangan ini.

Nia menjelaskan, introspeksi pada dasarnya merupakan aktivitas untuk menelaah dan mengevaluasi diri. Seseorang akan lebih memahami pikiran dan perasaannya, termasuk rasa kompeten. Rasa kompeten berkaitan dengan tingkat keyakinan seseorang mengenai apa yang dirasanya bisa dan apa yang dirasanya tidak bisa (inkompenten). Kesadaran seseorang mengenai kelebihan dan kekurangannya diperoleh dari proses introspeksi tersebut.

Pada kasus ketika seseorang merasa inferior ketika menyadari kekurangannya, ia tidak melihat dirinya secara utuh. ia hanya fokus pada kekurangannya sehingga merasa tak berdaya. Rasa tak berdaya inilah yang membuatnya kehilangan rasa percaya diri. Tanpa disadari, ketiadaan rasa percaya diri sering kali tampak dalam sikap dan perilaku, yang dilihat oleh orang lain sebagai rendah diri. Akibatnya, orang lain kesulitan untuk menaruh rasa percaya. Agar dapat dipercaya, seseorang harus mampu dipercaya (trustworthy) yang kuncinya adalah rasa percaya diri.

Agar tidak terjebak pada rasa inferior, seseorang harus mampu menghargai dirinya. Melihat dan memahami diri secara utuh, fokus pada kelebihan yang dimiliki, yang dapat digunakan untuk mengatasi kekurangan. “Kesadaran akan kekurangan diri adalah alat untuk melakukan perbaikan dan bergerak maju, menjadi diri yang lebih baik dari waktu ke waktu,” tutur Nia.

Demikian pula cara memandang kekuatan yang kita miliki. Kelebihan yang dimiliki mampu memunculkan kepercayaan diri (rasa kompeten). Hal ini adalah modal yang mampu mengantarkan seseorang pada prestasi dan mendatangkan kepercayaan orang lain. Namun, rasa kompeten yang tidak disertai oleh karakter positif dapat membuat orang lupa diri, merasa superior (merasa lebih dari yang lain), dan cenderung menganggap remeh persoalan.

“Agar tidak pinter keblinger, kesadaran bahwa kita memiliki kekuatan perlu diimbangi dengan nilai-nilai integritas, kedewasaan, dan mental berkelimpahan. ” (Nia Juliawati, 2010)

Integritas adalah cerminan dari pribadi yang utuh dan terpadu, kemampuan memandang dan berperilaku secara seimbang pada setiap sisi kehidupan. Kedewasaan merupakan penggabungan dari keberanian atau kemampuan menyelesaikan berbagai permasalahan disertai nilai-nilai kebaikan (courage and kind). Mentalitas berlimpah dimiliki oleh mereka yang memandang kehidupan sebagai arena yang memberi kesempatan dan sumber daya tak terbatas, tidak melihatnya sebagai arena kompetisi yang hanya menghasilkan seorang pemenang.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s