Because I am Different !!! I am Extraordinary …

Seorang “extraordinary” kadang dihadapkan pada problematika dalam dirinya dalam menyikapi kondisi masyarakat. Satu sisi harus menjaga idealisme dirinya, di sisi lain harus menghadapi realitas masyarakat yang semakin kompleks. Sehingga sangat wajar ketika ada kalanya untuk menjadi seorang “extraordinary” dibutuhkan kemampuan, mental, dan pondasi yang kuat agar tidak mudah tergoyahkan ketika sang angin dan badai menerjang. Dia harus siap untuk menjadi “unik” di tengah kondisi “umum” masyarakat. Bahkan bisa jadi menjadi pribadi yang “jarang” karena nilai dan norma yang berkembang di masyarakat semakin jauh dari seharusnya.

Orang-orang “extraordinary” pernah hadir dalam untaian sejarah. Kisah yang paling populer adalah bagaimana sekelompok ashabul kahfi harus terasing dari masyarakat. Bahkan dalam catatan sejarah, Kisah Ashabul Kahfi dikatakan terjadi di suatu tempat yang kini dikenal sebagai Gunung Pion (Mt. of Pion). Di sana terletak sebuah gua yang diberi nama Gua Tujuh Orang Peradu (The Cave Of The Seven Sleepers) yang terletak di Efesus (Ephesus), Turki. Artinya kisah ini betul-betul terjadi dan nyata.
Pelajaran yang bisa diambil dari kisah ini salah satunya adalah jangan kuatir dan takut untuk menjadi “extraordinary”.

Dalam berbagai ulasan sejarah, hanya orang-orang yang “berbeda” yang akan tertulis. Orang-orang biasa hanya akan dilupakan oleh waktu karena mungkin tidak “special” dan dianggap biasa-biasa saja.
Dalam terminologi agama, sebetulnya Allah memerintahkan agar hamba-hambanya senantiasa menjadi pribadi yang “extra” atau lebih dan istimewa. Sehingga bagi mereka yang memiliki tingkat keimanan dan ketakwaan “extra” akan memperoleh derajat dan predikat yang istimewa.

Lalu jikalau ditarik dengan kondisi saat ini?

Bisa jadi salah satu cara untuk dicintai Allah adalah dengan menjadi “orang asing”. Orang asing di sini adalah mereka yang memiliki pribadi berbeda dengan orang biasa, bukan orang biasa-biasa saja dengan kata lain menjadi orang Luar biasa atau Extraordinary.

Begitu luar biasanya, di saat orang biasa sedang tidur terlelap, tetapi dia bangun untuk berkomunikasi dengan sang Pencipta dengan shalat malam atau shalat Tahajud. Di saat orang biasa lebih banyak mementingkan kepentingan pribadi, dia memilih untuk memikirkan bagaimana perjuangan dan kepentingan umat. Di saat orang biasa nyaman dengan kenikmatan duniawi, “perbuatan yang mendekati zina”, kemewahan, bahkan kebanggaan pribadi, dia memilih untuk lepas dari belenggu dunia, jauh dari kesia-siaan, menjauhi perbuatan zina, berada dalam roda perjuangan, dan melepaskan zona nyaman.

Kadang orang biasa-biasa menganggap mereka tak mampu, lemah, kampungan, tidak “gaul”, menyimpang, atau apapun julukannya. Karena mereka orang “extraordinary” memang berbeda.
Sebetulnya bukan berarti mereka tidak mampu untuk menjadi “orang biasa”, bahkan jika mau, dia akan menjadi yang lebih pula, atau dianggap paling biasa-biasa oleh orang biasa.
Namun itu bukan masalah mampu dan tidak mampu, tetapi ini soal prinsip hidup yang harus diperjuangkan. Karena orang-orang extraordinary meyakini bahwa kenikmatan dunia akan diperoleh ketika manusia memiliki orientasi yang lebih tinggi yaitu akhirat. Kehidupan dunia adalah singkat seperti musafir yang mampir minum dan mengadakan perjalanan jauh. Bagaimana nikmat dan mewahnya kehidupan dunia ini akan berakhir, hilang lenyap sesuai dengan arti fana.

Kehidupan Akhirat? Kehidupan yang tak berujung, yang tak mungkin diulangi, yang tak mungkin diakhiri… Jikalau selamat maka akan terus selamat, jikalau celaka maka akan terus celaka…

Maka beruntunglah bagi orang-orang “extraordinary”, jangan khawatir dengan “idealisme” yang kau genggam, jangan menangis atas kesusahan yang kau alami karena akan ada balasan yang jauh lebih besar… Memang adakalanya menjadi “extraordinary” menjadikan dia menjadi “asing” untuk saat ini. Namun itu bukan masalah, karena Rosulullah pun bersabda dalam hadist sebagai berikut : “Islam pernah dianggap asing saat kedatangannya dan kelak diakhir zaman, islam juga dianggap asing. Maka beruntunglah orang-orang yang dianggap asing.”(HR. Muslim dari Abi Hurairah).

tulisan ini juga diterbitkan di dakwatuna.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s