Bijak bersikap dan Evaluasi…

Bismillah…

Semakin maraknya berbagai aliran, golongan, dan paham yang tidak jelas dewasa ini, seperti NII, JIL, Ahmadiyah, dan sebagainya… menunjukkan perlunya kita sebagai masyarakat Islam untuk senantiasa mengevaluasi diri kita.

Kebutuhan pendidikan agama sejak dini baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat, mutlak dibutuhkan untuk membekali kita dari hal-hal yang menyimpang dari Islam. Budaya kritis dan bijak dalam bersikap harus menjadi point yang perlu ditingkatkan. Sikap-sikap anarkis, kekerasan, bahkan perilaku dan perangai yang buruk harus ditinggalkan. Peran orang-tua terhadap anak dan perlunya menjalin hubungan yang harmonis di keluarga merupakan salah satu media untuk mencegah penyimpangan-penyimpangan.


Bagaimana tidak, mau tidak mau, berbagai isu yang muncul  di masyarakat seperti teror bom yang seolah-olah identik dengan Islam, penangkapan beberapa aktivis islam, semakin mendorong masyarakat phobi dan takut dengan Islam.

Pada akhirnya kita sebagai masyarakat Islam dituntut untuk menunjukkan citra positif, akhlak mulia, prestasi dan kontribusi. Seluruh kalangan baik itu kaum intelektual, pendidikan, pengusaha, maupun tokoh masyarakat memiliki tanggung jawab untuk mengamalkan ajaran Islam dan memahamkan indahnya Islam.

Karena setiap isu yang buruk tentang Islam perlu diluruskan, maka salah satu wujud kongkret kita sebagai masyarakat Islam adalah dengan prestasi dan akhlak mulia. Karena isu apapun akan luntur seiring berjalannya waktu, karena isu apapun akan dipertanyakan ketika fakta tak sesuai dengan berita.

Semakin dalam kita berislam, semakin membuat diri kita yakin atas pertanggung-jawaban. Oleh sebab itu, seyogyanya harus semakin sering kita mengevaluasi diri kita.

Apakah pribadi saya hari ini lebih baik daripada pribadi kemarin? bagaimana sikap kita kepada orang tua kita? Apakah semakin baik atau tidak? Bagaimana sikap kita kepada tetangga kita? Bagaimana kepekaan sosial kita di masyarakat? Semua…semua… harus dievaluasi dan direnungkan, karena sebagai masyarakat Islam setiap pola langkah dan gerak kita akan dinilai oleh orang lain. Betul memang jikalau penilaian manusia itu relatif, dan penilaian oleh Allah lebih penting… tetapi perlu direnungkan bahwa ahlaq adalah buah dari akidah… Seperti halnya pohon akan menghasilkan buah yang baik, ketika memiliki akar yang kuat. Ahlaq mulia merupakan salah satu perwujudan pribadi yang memiliki landasan akidah yang kokoh.

“Sesungguhnya Allah adalah Dzat Yang Mahaindah dan mencintai keindahan. Dia mencintai akhlak yang tinggi dan membenci akhlak yang rendah.” (HR Ath-Thabrani dan Ibnu Asakir).

“Dengan kemuliaan akhlak seorang mukmin mampu mencapai derajat yang tinggi Ia akan mendapat derajat sama dengan derajat para mujahid fi sabilillah, para ahli ibadah, orang-orang yang senantiasa berpuasa, orang-orang yang shalat di malam hari dan orang-orang yang beristighfar di sore hari. Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya seorang muslim musaddid (ibadahnya sedang-sedang saja) akan mampu mencapai derajat orang-orang ahli puasa yang mendirikan ayat-ayat Allah, disebabkan oleh keindahan akhlaknya dan kemuliaan prilakunya.”(HR Ahmad dan Ath-Thabrani).

Artikel Terkait :


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s