Saudaraku marilah sejenak …

Saudaraku yang berbahagia…
Baru-baru ini begitu gencar diberitakan di media berbagai berita dan cerita dari berbagai hal. Dari mulai kasus artis, gosip perselingkuhan, video mesum anggota DPR, aliran sesat, kerusuhan, pembajakan kapal, sampai kasus teror bom. Semuanya terjadi dan diberitakan di negeri yang kita cintai yaitu Indonesia.

Ironi dan sedih memang jika melihat begitu banyak kasus negatif yang terjadi. Gembor-gembornya peristiwa yang hadir seolah semakin menutupi luhurnya kepribadian dan karakter bangsa kita sesungguhnya.

Saudaraku yang bijak…
Begitu banyak berita negatif cenderung di blow-up sementara berita positif, prestasi, yang sifatnya memotivasi dan membangun cenderung tidak terdengar kabarnya. Ini sangat berbeda dengan kondisi di negara lain. Sebagai contohnya ketika kita melihat peristiwa tsunami di Jepang, bagaimana peran media mampu memotivasi masyarakat untuk bangkit dari keterpurukan meskipun kondisinya sangat sulit.

Saudaraku yang baik…
Dampak berbagai berita di media akhirnya banyak orang yang berkomentar dan berpendapat dengan cara pandangnya masing-masing. Tidak ada salahnya jikalau kita peka terhadap segala hal yang terjadi di negeri kita, bahkan untuk berpendapat. Namun saudaraku… Hal tersebut tidak akan bermanfaat jikalau komentar yang kita sampaikan tidak menambah dan membuat kita dewasa dan untuk senantiasa memperbaiki diri kita.

Sesungguhnya, ciri khas seorang dewasa diawali dengan Diam Aktif yaitu kemampuan untuk menahan diri dalam berkomentar. Orang yang memiliki kedewasaan dapat dilihat dari sikap dan kemampuannya dalam mengendalikan lisannya. Dia cenderung baru mau berkomentar ketika semuanya sudah benar-benar jelas dan sesuai dengan fakta. Bukan sebatas mengikuti emosional sesaat. Dia pun lebih baik diam tak bicara ketika apa yang dia sampaikan tidak bermanfaat.

Dalam keseharian kita, mungkin kita masih ingat ketika melihat seorang anak kecil.

Saudaraku yang budiman…
Apa yang anak kecil lihat biasanya selalu dikomentari dengan polos. Seorang yang telah berusia bisa saja meniru perilaku anak kecil tersebut. Orang tua yang kurang dewasa lisannya sangat sering berbunyi, semua hal dikomentari. Ketika dia melihat sesuatu langsung dipastikan akan dikomentari,ketika menonton televisi misalnya komentar dia mungkin akan mengalahkan suara dari televisi yang dia tonton.

Saudaraku yang berperangai baik…
kita mungkin sepakat bahwa penonton tv yang dewasa itu akan senantiasa bertafakur terhadap acara yang dia tonton. Dia akan senantiasa merenungkan atas acara yang dia tonton dan memohon dibukakan pintu hikmah kepada Allah.

Seseorang yang pribadinya matang dan dewasa bisa dilihat dari
komentar-komentarnya, makin terkendali Insya Allah akan semakin matang.

Saudaraku yang santun…
Ciri kedewasaan selanjutnya dapat dilihat dari Empati. Anak-anak biasanya belum dapat meraba perasaan orang lain, orang yang bertambah umurnya tetapi tidak dapat meraba perasaan orang lain berarti belum dapat disebut dewasa. Kedewasan seseorang dapat dilihat dari keberanian melihat dan meraba perasaan orang lain. Seorang ibu yang dewasa dan bijaksana dapat dilihat dari sikap terhadap pembantunya yaitu tidak semena-mena menyuruh, walaupun sudah merasa menggajinya tetapi bukan berarti berkuasa, bukankah di kantor ketika lembur pasti ingin dibayar overtime ? tetapi pembantu lembur tidak ada overtime ? semakin orang hanya mementingkan perasaannya saja maka akan semakin tidak bijaksana. Semakin orang bisa meraba penderitaan orang lain Insya Allah akan
semakin bijak. Percayalah tidak akan bijaksana orang yang hidupnya hanya memikirkan perasaannya sendiri.

Kadang kita cenderung untuk ingin dimengerti daripada cenderung untuk mengerti perasaan orang lain.

Orang yang bijak dan dewasa benar-benar berhitung tidak hanya dari benda, tapi dari waktu, tiap detik, tiap tutur kata, dia tidak mau jika harus menanggung karena salah dalam mengambil sikap. Anak-anak atau remaja biasanya sangat tidak hati-hati dalam bercakap dan mengambil keputusan. Orang yang bersikap atau memiliki kepribadian dewasa dapat dilihat dalam kehati-hatian memilih kata, mengambil
keputusan, dan mengambil sikap.
Dia tidak ingin untuk salah dalam bersikap dan menjauhi sikap ceroboh.

Ciri orang yang dewasa adalah sabar, dalam situasi sesulit apapun lebih tenang, mantap, dan stabil.

Sahabat-sahabat, seseorang yang dewasa benar-benar mempunyai sikap yang amanah, memiliki kemampuan untuk bertanggung jawab.

Untuk melihat kedewasaan seseorang dapat dilihat dari kemampuannya bertanggungjawab, sebagai contoh: seorang ayah dapat dinilai bertanggung jawab atau tidak yaitu dalam cara mencari nafkah
yang halal dan mendidik anak istrinya ? Bukan masalah kehidupan dunia , yang menjadi masalah mampu tidak mempertanggungjawabkan anak-anak ketika pulang ke akherat nanti ? Ke surga atau neraka? Oleh karena itu orang tua harus bekerja keras untuk menjadi jalan kesuksesan anak-anaknya di dunia dan akherat dan menjadi tauladan bagi keluarganya.

Begitu pula sebetulnya seorang ibu, dapat dinilai bertanggungjawab jika mampu mendidik anak-anaknya untuk menjadi anak yang sholeh, mampu mengurusi persoalan di rumah dengan baik. Saat ini kadang kondisi ini sangat jarang. Lebih banyak ibu-ibu yang memilih bekerja sehingga mengorbankan keluarga. Hal ini tentu saja kurang baik.

Seorang pria yang masih sendiri harus mempersiapkan untuk menjadi suami yang baik, menyiapkan bekal ilmu, wawasan, pengetahuan, dan akhlaq yang baik sehingga kelak mampu menjadi imam bagi pasangannya. Tidak hanya sebatas menyiapkan kemampuan materi saja tetapi yang lebih penting adalah kualitas ketakwaan dan keshalehan dirinya.

Seorang wanita yang masih sendiri harus juga mempersiapkan dirinya untuk kelak menjadi istri yang sholehah. Karena sesungguhnya perhiasan yang paling indah di dunia ini adalah istri yang sholehah. Dia juga harus pandai dalam memilih pasangan jiwanya. Jangan hanya berdasarkan hawa nafsu, materi, maupun pangkat dan jabatan. Namun carilah calon imam yang berkualitas baik di mata Allah.

Saudaraku yang mulia…
Pada akhirnya kesuksesan kita untuk menjadi bijak adalah bagaimana kita bisa memompa diri kita dan menyukseskan orang-orang
disekitar kita, kalau ingin tahu kesuksesan kita coba lihat perkembangan keluarga kita, sahabat kita, istri
dan anak-anak kita maju tidak? lihat sanak saudara kita pada maju tidak? Jangan sampai kita sendirian yang maju, tapi sanak saudara kita hidup dalam kesulitan, ekonominya seret, pendidikan seret.,sedang kita tidak ada kepedulian. Berarti itu sebuah kegagalan.,kedewasaan seseorang itu dilihat dari bagaimana kemampuan dia memegang amanah yang Allah berikan kepadanya.

Mudah-mudahan bermanfaat…

 

Artikel Terkait :


One thought on “Saudaraku marilah sejenak …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s