Jangan Takut akan Ujian, tapi Bersyukurlah…

(artikel ini telah diterbitkan juga di dakwatuna.com)

Ketika kita sadar bahwa setiap orang akan mendapatkan ujian sesuai dengan kemampuannya. Kadang rasa yang hadir adalah ketakutan untuk berprestasi dan memiliki kemampuan yang lebih. Karena stereotype dalam dirinya menyadari bahwa dengan menjadi semakin hebat maka akan semakin tinggi ujian yang harus dihadapi, semakin besar pula tantangan yang menerpa. Dampaknya berbagai harapan pupus seiring dengan ketakutan menghadapi ujian.

jalan masih panjang

(sumber gambar : google.com)

Sungguh demi jiwa-jiwa yang tak pernah lelah menggapai sesuatu. Persepsi di atas adalah suatu kewajaran. Mengingat kita dibekali dua unsur fitrah yaitu adanya pengharapan dan adanya rasa takut atas sesuatu. Sesungguhnya yang menjadi persoalan adalah ketika kita salah dalam menyikapi potensi tersebut. Rasa takut yang berlebihan bisa menjadi jebakan setan yang sangat nyata. Halus seolah mulus, terbesit dalam kesempitan jiwa yang haus akan cahaya. Dahaganya seolah terobati dengan kepasrahan berada di zona nyaman. Padahal itu semu dan memabukkan, karena dengan tegas sang Kekasih menyampaikan bahwa

Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin sesungguhnya dia telah beruntung, barangsiapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka sesungguhnya ia telah merugi. Dan barangsiapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka sesungguhnya ia terlaknat.” (HR. Dailami).

Artinya, setiap pribadi di antara kita harus menjadi orang yang baru secara positif setiap hari. Semangat baru, terobosan baru, dan maha karya baru.

Wahai para penggerak roda peradaban, menyikapi ujian dan tantangan yang muncul seharusnya kita pandang sebagai kesempatan untuk meningkatkan kualitas personal dan masyarakat. Menjadi suatu peluang besar untuk akselerasi potensi, skill, dan kemampuan.  Pengobat jiwa yang sakit dan pengasah rohani yang mulai berkarat oleh virus-virus duniawi.

Betul memang harus disadari, akan ada dua akibat yang pasti hadir setelah menempuh ujian. Pertama adalah keberhasilan dalam melalui ujian dan yang kedua adalah kegagalan melalui ujian. Jika kita berhasil maka melahirkan kepuasan tersendiri yang merangsang kita untuk terus dan terus bersemangat meraih keberhasilan yang lain. Motivasi berprestasi dan jiwa optimis akan tertancap erat dalam diri kita dengan sendirinya.

Bilamana gagal, kita mungkin akan jatuh sesaat, tapi bukan untuk mengeluh, pilu, putus asa, dan merana. Kegagalan hanyalah salah satu obat agar kita bertransformasi menjadi pribadi unggul dan tangguh. Sadari dan yakini bahwa dengan kegagalan justru wujud kasih sayang Sang Penguji begitu nyata. Begitu cintanya Dia pada kita sehingga tak rela ketika kita terpuruk, hanya menjadi orang biasa-biasa, tanpa peningkatan kualitas yang berarti. Tanamkan dalam raga, benak, dan hati kita bahwa ujian hanya datang pada mereka yang pantas, kepada mereka yang memiliki kualitas luar biasa untuk menyelesaikan ujian dengan sukses. Setiap kegagalan adalah pintu awal kesuksesan. Mereka yang pernah gagal akan jauh menikmati kesuksesan dibandingkan mereka yang belum pernah gagal. Kegagalan akan tetap menjadi kegagalan ketika kita salah bersikap.

Mari buka benak dan hati kita, luruskan niat ikhlas hanya pada-Nya. Ketika hidup hanya satu kali namun menyimpan berjuta rangkaian ujian dan pilihan. Sadari bahwa semua pilihan sikap pasti ada resiko, semua ujian pasti ada kesempatan berprestasi. Maka berpikirlah dengan jernih dan ikhlas sebelum memilih agar mampu memperoleh pilihan yang terbaik sehingga dimudahkan dalam menempuh ujian. Pilihan yang paling menguntungkan dan manfaat di dunia dan akhirat. Pilihan yang kelak menyelamatkan dan memperingan pertanggung­jawaban. Jadikan do’a dan ibadah sebagai landasan dalam memilih. Ikhtiar dan tawakal sebagai pelumas menghadapi ujian. Syahadah sebagai komitmen dan processor dalam mengarungi kehidupan. Ingat, jangan takut menghadapi ujian, karena ujian itu indah dan bersyukurlah atas ujian yang hadir.

Wallahu’alam.

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s