Pernikahan Versi Gue…(1)

Jujur, ketika artikel ini ditulis, penulis belum pernah sama sekali menikah. Namun, penulis memberanikah diri untuk mengulas sedikit tentang pernikahan, tentunya menurut pemahaman penulis. Agar bermanfaat bagi kita semua, khususnya bagi penulis… hehe… Kira-kira begini penjabarannya…

***

janur kuning tanda kesucian cinta

Kapan saatnya Menikah versi Gue ?

Ketika seseorang itu sudah matang dan dewasa, yang ditandai dengan kondisi fisik yang sudah layak dan tercukupi, pemikiran sehat dan baligh maka umumnya itulah yang menandakan dia pantas untuk menikah. Pantas tetapi apakah sudah saatnya? Mungkin banyak yang menjawab dengan standar-standar materi atau kebendaan seperti punya pekerjaan, punya tabungan, kalau sudah punya rumah dan lain sebagainya. Tidak salah sih tetapi menurut gue itu bukan acuan mutlak yang perlu disiapkan oleh seseorang yang akan menikah. Buktinya, banyak bujangan yang sudah memiliki itu semua bahkan sudah dalam jumlah dan kualitas materil yang lebih dari cukup, ternyata mengaku masih belum siap menikah. Banyak pula perawan yang sudah mapan, memiliki pekerjaan yang menyenangkan, namun merasa belum pengen atau belum mau. Lalu kapan dong saatnya menikah?

Versi Gue, menikah itu sudah saatnya ketika individu tersebut sudah layak nikah secara fisik, paham hakikat pernikahan, tujuan pernikahan, konsekuensi pernikahan, dan tentunya sudah menemukan siapa yang pantas dinikahi.

Kebiasaan berpacaran, bergonta-ganti pasangan, dan sejenisnya belum menunjukkan dia pantas untuk menikah. Karena belum tentu pacaran yang dilakukan adalah tahapan awal untuk melangsungkan pernikahan, bisa jadi hanya tuntuan nafsu dan pengaruh lingkungan. Tidak sedikit mereka yang sudah begitu lama berpacaran, tidak berani bahkan takut ketika ditanyakan kapan maju ke jenjang pernikahan. Betul ?

Hakikat Pernikahan Versi Gue…

Bagi gue, pernikahan akan benar jika dilakukan dengan cara yang benar dan dengan proses yang benar. Logikanya, sesuatu yang bersih dan suci tentu harus lahir dari wadah yang bersih dan suci bukan wadah yang kotor. Prosesnya harus benar agar tidak terkontaminasi oleh zat-zat asing alias racun pencemar pernikahan. Biar suci maka proses menuju pernikahan harus sesuai dengan tuntunan agama dan dicontohkan oleh para nabi dan rosul. Ironisnya banyak yang masih bingung dan terbatas informasi tentang hal ini, termasuk orang islam itu sendiri. jodoh di tangan Tuhan

Hakikat pernikahan versi gue adalah proses pelegalan fitrah manusia berpasangan untuk membentuk sekup masyarakat paling kecil yaitu keluarga. Di dalamnya akan ada pemimpin keluarga, ada aturan (syariat Islam) yang dilandingkan untuk memelihara keluarga agar tetap berada dalam jalur relnya, dan ada tujuan berkeluarga. Gampangnya sih menjadi miniatur terkecil pembinaan Islam di dunia. Masing-masing pihak yang akan menikah (cowo dan cewe) harus paham dan memiliki visi-misi yang sama dalam membentuk keluarga. Oleh sebab itu, sebelum menikah maka menurut gue harus dipastikan landasan dalam menikah itu sama atau tidak? Harus lurus, murni, dan ikhlas semata-mata hanya mengharap ridho Allah, bukan landasan nafsu atau suka doang. Karena jika landasannya nafsu maka, menurut gue pernikahan yang dilangsungkan bisa tidak barokah. Rawan dengan percecokan dan kurang kepercayaan di antara pasangan.

Sulit? Tergantung persepsi masing-masing. Bagi mereka yang tidak punya pegangan tentu akan kesulitan mencapai hal ini. Mereka yang kurang memahami Islam tentu mudah terjerumus dalam membina keluarga yang semu.

Kata Pak Utadz Drs. Asmawi H. Rawi dari pengadilan Agama Indonesia begini:

Sesungguhnya Allah menciptakan manusia, pria dan wanita, dengan sifat fitrah yang khas. Manusia memiliki naluri, perasaan, dan akal. Adanya rasa cinta kasih antara pria dan wanita merupakan fitrah manusia. Hubungan khusus antar jenis kelamin antara keduanya terjadi secara alami karena adanya gharizatun nau’ (naluri seksual/berketurunan).  Sebagai sistem hidup yang paripurna, Islam pasti sesuai dengan fitrah manusia. Karenanya Islam tidak melepaskan kendali naluri seksual secara bebas yang dapat membahayakan diri manusia dan kehidupan masyarakat. Islam telah membatasi hubungan khusus pria dan wanita hanya dengan pernikahan. Dengan begitu terciptalah kondisi masyarakat penuh  kesucian, kemuliaan, sangat menjaga kehormatan setiap anggotanya, dan dapat mewujudkan ketenangan hidup dan kelestarian keturunan umat manusia.

Disinilah makanya gue pengen pernikahan gue berlangsung sesuai dengan ajaran Islam (Amin).

Siapa yang harus dinikahi :

Mengutip pernyataan Ustadz Muhammad Agus Syafii, menurut beliau pilihlah Jodoh Yang Menenteramkan. Jodoh yang menentramkan adalah orang yang beragama secara substansial atau dapat dilihat sifat-sifatnya sebagai orang yang mematuhi agama. Lalu apa substansi agama itu? Secara vertikal orang yang memiliki agama itu mengimani, meyakini sepenuhnya adanya Allah sang Pencipta Yang Maha besar, Maha Adil, Maha Pemurah, Maha Pengampun, yang oleh karena itu sebagai manusia atau hamba Allah, ia tidak sanggup untuk sombong, sewenang-wenang, kikir, totalitas hidupnya hanya untuk mengabdi kepada Allah. Gampangnya sih mau menjadi orang yang bertakwa, yaitu orang yang menaati semua perintahNya dan menjauhi semua laranganNya. Secara horizontal orang yang beragama substansial akan berusaha secara maksimal menjadikan dirinya memberikan kemanfaatan maksimal kepada manusia dan makhluk lain, karena manusia tak lain adalah pengejawantahan kasih sayang Allah. pilihan cinta

Nah, bayangkan jika memiliki pasangan yang karakteristik keberagamaanya seperti itu pastilah janji Rasul akan terbukti, yakni memperoleh keberuntungan, sakinah, mawaddah, dan warrahmah. Jodoh yang bizatiddin, belum tentu yang lulusan pesantren, belum tentu yang pandai berkhotbah agama, karena hal itu baru indikator lahir. Karakteristik bidzatiddin akan terasa dalam berkomunikasi, dalam berinteraksi, dalam bertransaksi, yakni subtansi agamanya akan terasa menyejukkan, menentramkan, membangun semangat, menumbuhkan etos , “mengagumkan” , terkadang seperti tidak rasional tetapi setelah direnungkan justru sangat rasional, dan susah dimusuhi, susah pula diprovokasi. Dalam realita kehidupan ada orang yang beragama lebih menonjolkan syari’at lahir sehingga agamanya nampak “gebyar-gebyar”, tetapi setelah sering berkomunikasi, lama berinteraksi dan berkali-kali bertransaksi, lama-kelamaan “gebyar-gebyar” agamanya tidak bisa diapresiasi, hilang kekaguman, hilang respek, meski tidak sampai menjadi musuh. Sebaliknya ada orang yang nampaknya sangat sederhana keberagamaanya, bahkan seperti mualaf atau seperti abangan saja, tetapi setelah lama berkomunikasi, berinteraksi dan bertransaksi, kekaguman muncul, sangat respek dan menjadi sumber inspirasi dalam menghayati keindahan hidup, dan itulah karakteristik dzatiddin yang sebenarnya, jodoh yang menenteramkan hati di dunia dan akhirat.

Jodoh yang menentramkan hati juga akan tampak pada sikapnya dalam menyikapi ujian, menghadapi musibah, dan segala bentuk tantangan dan hambatan dalam berumah tangga. Selalu setia, saling mendukung, saling mencintai di kala suka maupun duka. Mau saling belajar dan memperbaiki pribadi masing-masing. Subhanallah syurga dunia…

Mengapa pernikahan harus secara syariat Islam ?

Karena Islam mensyariatkan pernikahan untuk melindunginya dari kemadharatan yang ada padanya. Dengan akad pernikahan, Islam menghalalkan segala macam bentuk ekspresi cinta dari pasangan suami istri. Bahkan setiap ekspresi dari cinta tersebut bernilai ibadah di sisi Allah SWT. Pengorbanan atas nama cinta tidak lagi menjadi sia-sia. Akan tetapi bernilai sangat istimewa.

i love islam

Rasa letih, lelah sang kepala keluarga untuk anak istri menjadi ibadah. Kesabaran istri dalam taat kepada suami, melayaninya dan mengasuh serta mendidik anak-anaknya menjadi ibadah. Dari hal terkecil sampai dengan hal yang paling besar terhitung ibadah.

Kerapuhan cinta bisa membuat dua insan berpisah. Dalam syariat pernikahan Islam. Islam menjaga hak setiap pihak, sehingga tidak ada yang dirugikan. Ketika terjadi perpisahan atau perceraian hak dan kewajiban dari kedua belah pihak telah diatur dengan sempurna. Dari mulai yang terkait dengan diri sendiri secara langsung. Seperti mut-ah (pemberian kepada istri ketika dicerai), dan aturan untuk rujuk. Maupun yang terkait dengan pihak lain, seperti pembagian waris dan aturan menikah kembali dengan pasangan yang berbeda.

Tidak ada isitilah pihak yang dirugikan disini. Pihak yang lepas dari tanggung jawabnya seperti menelantarkan anak dan istrinya. Ia akan diperhitungkan baik di sisi manusia maupun di sisi Allah SWT. Keributan akibat harta gono-gini antara pasangan pun tidak akan terjadi. Karena telah diatur dalam pembagian waris dan penentuan kepemilikan harta.

Penutup

Berikut ini adalah sebuah puisi tentang pernikahan yang dicopy dari wall sahabat.

♥ Jika hakikat pernikahan adalah karena SEKS, maka pasangan akan selalu bertengkar jika pelayanan di kamar tidak memuaskan..

♥ Jika hakikat pernikahan adalah karena HARTA, maka pasangan bakal bubar jika bankrut..

♥ Jika hakikat pernikahan adalah karena KECANTIKAN, pasangan bakal lari jika rambut mula beruban dan muka keriput atau badan jadi gemuk..

♥ Jika hakikat pernikahan adalah karena ZURIAT, maka pasangan akan mencari alasan untuk pergi jika pasangan tidak dapat memberikan anak..

♥ Jika hakikat pernikahan adalah karena KEPRIBADIAN, pasangan akan lari jika ada sedikit yg berubah tingkah lakunya..

♥ Jika hakikat pernikahan adalah karena CINTA, hati manusia itu tidaklah tetap dan mudah terpikat pada hal-hal yang lebih baik , tanpa kita sadari cinta itu hilang di hati..

♥ Jika hakikat pernikahan adalah karena IBADAH kepada ALLAH, sesungguhnya ALLAH itu KEKAL dan MAHA PEMBERI HIDUP kepada makhlukNYA ..
Dan ALLAH mencintai hambaNYA melebihi seorang ibu mencintai bayinya . Maka tak ada alasan apapun di dunia yang dapat meretakkan rumah tangga kecuali jika pasangan mendurhakai ALLAH.

Itulah beberapa ulasan tentang pernikahan versi gue, artinya sebatas pengetahuan gue dan pemahaman gue.

Wallahu’alam.

Baca juga : Pernikahan Versi Gue (2) “Cintah, Nikah, dan Keluarga”


5 thoughts on “Pernikahan Versi Gue…(1)

  1. Dan jangan melupakan tahap saling mengenal pasangan. Agar di kemudian hari tidak kaget dengan karakter pasangannya. Remeh tapi penting tuh (dapet nasehat dr yg udah nikah nih) Tentunya yang sesuai syari’at islam ya..^^..
    Semoga disegerakan ya mas, aamiin😀

    1. Betul sekali… Makanya tahap pengenalan itu sejatinya tidak sebatas pada karakter tetapi juga pemahaman, keyakinan, dan visi-misi hidup… Membangun keluarga adalah membangun kehidupan. Oleh sebab itu harus memiliki visi-misi hidup yang sama… hehehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s