Pernikahan Versi Gue (2) “Cinta, Nikah, dan Keluarga”

Sore ini, seperti biasa kesibukan senantiasa menghimpit. Aktivas, pekerjaan, dan tuntutan untuk membantu orang tua dengan gembira  gue jalani. Dalam benakku apapun yang terjadi semuanya harus dilakukan dengan sungguh-sungguh…Yosshhh… Ciayooo….

Sesaat hujan pun turun dengan deras membuat suasana menjadi teduh dan sejuk. Alhamdulillah….Dalam gemercik air hujan yang syahdu, angin berhembus dingin menusuk setiap relung sendi-sendi otot ingin berdiri. Namun nyaman kok penuh ketenangan dan kelembutan. Sambil menunggu hujan, kuhidupkan hp, lalu browsing tweeter dari Uber Tweet. Baca setiap cerita yang hadir dengan campur aduk, dari mulai politik, curhatan, berita, hingga tentang cinta…. Fiyuh… aneka ragam yah dunia ini.

Saat itu ada hal yang menarik tatkala kubaca satu tweet dari kompasiana. Judulnya “Cinta, Nikah, dan Keluarga”. Topik yang hangat untuk orang seusiaku… hehe… Akhirnya kuberanikan meng-klik-nya dan kubaca apa yang ada di dalamnya. 

***

Perlahan-lahan kupahami tulisan dari Bapak Cahyadi Takariawan (seorang penulis buku “Wonderful Family” dan senior editor suatu media). Wow inspiring, aku jadi ingat tulisanku tentang “Pernikahan Versi Gue…” sebelumnya. Jadi kepikiran untuk menulis lanjutannya…mengadopsi konten dari beliau yang menurutku sepemikiran sama gue…. Namun sebelumnya kita simak tulisan beliau berikut ini. love

Cinta, Nikah, dan Keluarga

oleh : Cahyadi Cakariawan

(Penulis Buku “Wonderful Family”, Senior Editor PT Era Adicitra Intermedia, Anggota IKAL-XLV)

Benarkah pernikahan dan keluarga selalu bermula dari cinta ? Harian Taiwan, Nanyang Siang Pau, Kamis (08/03/2012) memberitakan, seorang wanita bernama Wang Xing Nvzai (27 tahun), mencatatkan pernikahannya dengan pemuda lajang Lee (23 tahun), di kantor catatan sipil di Distrik Tanzi, Taiwan. Setelah pernikahan disahkan pihak berwenang, Wang mengajak suaminya ke sebuah showroom mobil. Wang meminta Lee membelikan mobil untuknya. Namun reaksi Lee membuat kecewa Wang.

Lee menyatakan akan mempertimbangkan permintaan Wang. Mendengar kata-kata suaminya itu, Wang pun kesal. “Ceraikan saya jika kamu tidak mau membelikan mobil!” ungkap Wang kepada Lee dengan ketus dan marah.

Mendengar ucapan istrinya, Lee pun emosi. Mereka berdua kemudian kembali ke kantor catatan sipil yang baru saja mereka tinggalkan sekitar satu jam yang lalu. Pasangan Wang dan Lee mendaftarkan perceraian mereka. Peristiwa itu terjadi pada 6 Maret 2012 sempat menjadi bahan pembicaraan warga Taichung City, tempat tinggal pasangan tersebut. Bahkan pihak kantor catatan sipil di Tanzi menyebut ini sebagai pernikahan sah yang paling singkat di Taiwan.

Kita juga sering mendengar maraknya perceraian di lingkungan artis dan selebritis. Pedangdut Cici Paramida menikah dengan Suhaebi (alm), usia pernikahannya hanya 5 bulan. Artis Kristina dinikahi Al Amin Nasution, tapi enam bulan setelah mengarungi kehidupan pernikahan, Kristina melayangkan gugatan cerai. Demikian pula kisah artis Desy Ratnasari yang menikah dengan Trenady Pramudya, dan bercerai satu tahun setelahnya. Dewi Persik menikah dengan Aldi Taher hanya bertahan kurang lebih 1 tahun.

Sebelum menikah mereka bilang cinta. Setelah menikah ternyata tidak bertahan lama. Ada apa dengan cinta, ada apa dengan mereka?

Nikah Tidak Cukup Dengan Kata Cinta

Ternyata, tidak cukup dengan kata cinta. Pada contoh-contoh di atas, tampak ada kerapuhan dalam pondasi pernikahan. Pondasi yang mereka bangun untuk menciptakan keluarga tidak cukup kokoh, sehingga membuat kehidupan rumah tangga cepat goyah dan akhirnya roboh. Pernikahan yang tidak dilandasi niatan suci untuk beribadah, untuk menunaikan amanah Ketuhanan dan melaksanakan kewajiban kemanusiaan serta peradaban. Pernikahan yang semata-mata dilakukan “karena ingin”, karena mau, karena senang, karena syahwat….

Yang paling ekstrem adalah kisah pernikahan Wang dan Lee di Taiwan. Mereka menikah hanya satu jam, dan belum sempat melakukan “apa-apa” sebagai suami isteri. Karena seusai menikah di kantor catatan sipil, Wang segera mengajak Lee ke showroom mobil dan minta agar Lee membelikan mobil untuknya. Tidak dinyana, Lee memberikan jawaban yang mengecewakan Wang, maka segera Wang melontarkan kekesalan hatinya, yang akhirnya berujung ke perceraian.

Mengapa mereka menikah, jika hanya untuk bercerai satu jam setelahnya ? Padahal mereka mengobral kata cinta setiap detiknya…..love quran

Penjelasan yang lebih bertanggung jawab adalah melihat dari pondasi pernikahan mereka. Jika pernikahan dilandasi dengan pondasi yang kokoh, pastilah akan membuat rumah tangga yang terbentuk bertahan dan awet. Tidak akan mudah goyah oleh terpaan angin dan badai, tidak akan mudah karam oleh dahsyatnya gelombang. Keluarga akan mampu mengarungi samudera raya kehidupan yang penuh godaan, rintangan, gangguan, dan tantangan.

Maka ketika memasuki gerbang pernikahan, pondasi yang harus dibangun adalah kesadaran ibadah. Motivasi untuk menunaikan amanah Ketuhanan, niat suci untuk melaksanakan tuntunan Kanjeng Nabi, kehendak kuat untuk membangun peradaban kemanusiaan yang berwibawa dan bermartabat. Tanpa motivasi yang kuat seperti itu, akan memudahkan keluarga terhempas di tengah badai dan gelombang. Mudah diterpa masalah dan tidak mampu bangkit setelah terjatuh.

Bagi yang sudah terlanjur membentuk keluarga tanpa motivasi ibadah yang kuat, tidak ada hal yang terlambat. Anda bisa memulai dari titik nol, yaitu membangun kesadaran ibadah itu sekarang. Karena awal itu penting, namun lebih penting lagi menjaga selama prosesnya. Maka penting untuk menanam motivasi sejak awal, yang lebih penting lagi adalah menjaga kebaikan dalam kehidupan keseharian. Maka, mulailah dari titik nol, dari sekarang. Bismillah.

Cinta Menghajatkan Kepastian dan Tanggung jawab

Allah menciptakan manusia, pada saat yang sama memberikan perasaan, kecenderungan, dan ketertarikan terhadap keindahan. Rasa kecenderungan dan ketertarikan ini adalah sesuatu yang bersifat fitrah dan alamiah. Allah menggambarkan,“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diinginkan, yaitu : wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang” (Ali Imran: 14).

Di antara fitrah manusia adalah memiliki ketertarikan terhadap pasangan jenisnya. Pada sisi yang lain, Allah telah memberikan tuntunan pernikahan sebagai jalan resmi untuk menyalurkan fitrah ketertarikan terhadap pasangan jenis tersebut. Di sinilah kebesaran dan kasih Allah ditampakkan secara nyata kepada kita, dengan menciptakan manusia secara berpasang-pasangan.

Akan tetapi sangat disayangkan bahwa banyak manusia mengekspresikan rasa cinta dan ketertarikan terhadap pasangan hidup dengan memenuhi semua keinginan nafsu syahwat mereka. Bermula dari rasa ketertarikan, menguat menjadi cinta, ternyata berlanjut dan berakhir dengan petaka. Ini adalah cinta yang dieksploitasi secara tidak bertanggung jawab, yang akhirnya menghancurkan makna cinta itu sendiri. Bukan kebaikan yang didapatkan, namun justru kerusakan yang menjadi hasilnya.

Tidak cukup dengan obral janji, tebar pesona, dan  kata cinta. Yang diperlukan adalah kepastian dan tanggung jawab. Akad nikah adalah sebentuk kepastian dan tanggung jawab. Akad nikah adalah tanda cinta. Setelah hidup berumah tangga, masing-masing menunaikan peran, melaksanakan kewajiban, memberikan yang terbaik untuk pasangan, menjauhi segala yang tidak membahagiakan pasangan. Itulah kepastian cinta dan tanggung jawab yang nyata. Bukan hanya janji, bukan hanya mengumbar kata cinta. Tunjukkan cintamu dengan kepastian dan tanggung jawab !

Keluarga Penuh Cinta

Setiap kali kita berbicara tentang cinta dalam keluarga, selalu mengkaitkan dengan istilah sakinah, mawadah, wa rahmah. Tiga kata yang acap diringkas dengan sebutan Keluarga Sakinah. Sebagaimana diketahui, kata sakinah, mawadah dan rahmah itu diambil dari firman Tuhan:

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri (pasangan) dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram (sakinah) kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih (mawadah) dan sayang (rahmah). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir” (Ar Rum : 21).

Kata sakinah berasal dari bahasa Arab. Dalam bahasa Arab, kata sakinah mengandung makna tenang, tenteram, damai, terhormat, aman, nyaman, merasa dilindungi, penuh kasih sayang, dan memperoleh pembelaan. Dengan demikian keluarga sakinah berarti keluarga yang semua anggotanya merasakan ketenangan, kedamaian, keamanan, ketenteraman, perlindungan, kebahagiaan, keberkahan, dan penghargaan.

Kata mawaddah juga berasal dari bahasa Arab. Mawaddah adalah jenis cinta membara, perasaan cinta dan kasih sayang yang menggebu kepada pasangan jenisnya. Mawaddah adalah perasaan cinta yang muncul dengan dorongan nafsu kepada pasangan jenisnya, atau muncul karena adanya sebab-sebab yang bercorak fisik. Seperti cinta yang muncul karena kecantikan, ketampanan, kemolekan dan kemulusan fisik, tubuh yang seksi; atau muncul karena harta benda, kedudukan, pangkat, dan lain sebagainya.

Biasanya mawaddah muncul pada pasangan muda atau pasangan yang baru menikah, dimana corak fisik masih sangat kuat. Alasan-alasan fisik masih sangat dominan pada pasangan yang baru menikah. Kontak fisik juga sangat kuat mewarnai pasangan muda. Misalnya ketika seorang lelaki ditanya, “Mengapa anda menikah dengan perempuan itu, bukan dengan yang lainnya?” Jika jawabannya adalah, “Karena ia cantik, seksi, kulitnya bersih”, dan lain sebagainya yang bercorak sebab fisik, itulahmawaddah.

Demikian pula ketika seorang perempuan ditanya, “Mengapa anda menikah dengan lelaki itu, bukan dengan yang lainnya ?” Jika jawabannya adalah, “Karena ia tampan, macho, kaya”, dan lain sebagainya yang bercorak sebab fisik, itulah yang disebut mawaddah.

Rahmah berasal dari bahasa Arab. yang berarti ampunan, anugerah, karunia, rahmat, belas kasih, juga rejeki. Rahmah merupakan jenis cinta dan kasih sayang yang lembut, terpancar dari kedalaman hati yang tulus, siap berkorban, siap melindungi yang dicintai, tanpa pamrih “sebab”. Bisa dikatakan rahmah adalah perasaan cinta dan kasih sayang yang sudah berada di luar batas-batas sebab yang bercorak fisik.

Biasanya rahmah muncul pada pasangan yang sudah lama berkeluarga, dimana tautan hati dan perasaan sudah sangat kuat, saling membutuhkan, saling memberi, saling menerima, saling memahami. Corak fisik sudah tidak dominan.

Misalnya seorang kakek yang berusia 80 tahun hidup rukun, tenang dan harmonis dengan isterinya yang berusia 75 tahun. Ketika ditanya, “Mengapa kakek masih mencintai nenek pada umur setua ini?” Tidak mungkin dijawab dengan, “Karena nenekmu cantik, seksi, genit”, dan seterusnya, karena si nenek sudah ompong dan kulitnya berkeriput.

Demikian pula ketika nenek ditanya, “Mengapa nenek masih mencintai kakek pada umur setua ini?” Tidak akan dijawab dengan, “Karena kakekmu cakep, jantan, macho, perkasa”, dan lain sebagainya; karena si kakek sudah udzur dan sering sakit-sakitan. Rasa cinta dan kasih sayang antara kakek dan nenek itu bahkan sudah berada di luar batas-batas sebab. Mereka tidak bisa menjelaskan lagi “mengapa dan sebab apa” masih saling mencintai.

Keluarga sakinah memiliki suasana yang damai, tenang, tenteram, aman, nyaman, sejuk, penuh cinta, kasih dan sayang. Keluarga yang saling menerima, saling memberi, saling memahami, saling membutuhkan. Keluarga yang saling menasihati, saling menjaga, saling melindungi, saling berbaik sangka. Keluarga yang saling memaafkan, saling mengalah, saling menguatkan dalam kebaikan, saling mencintai, saling merindukan, saling mengasihi. Keluarga yang diliputi oleh suasana jiwa penuh kesyukuran, terjauhkan dari penyelewengan dan kerusakan.

Semoga kita semua mendapatkan dan memiliki keluarga yang sakinah, mawadah dan rahmah. Keluarga yang dipenuhi cinta.

***

Itulah sepenggal cerita tentang bagaimana menjalin keluarga versi beliau, menurut gue logis dan masuk akal. Terlepas sangat terkesan idealis tetapi realistis. Satu hal yang cukup menarik bagi gue adalah tentang konsep “sakinah, mawaddah, dan warrahmah”. Hampir setiap ada invitation wedding teman gue yang Islam, dalam facebook atau apapun. Rata-rata ucapannya, semoga menjadi keluarga “sakinah, mawaddah, dan warrahmah”. Pertanyaan yang kadang muncul adalah apakah mereka (yang mengucapkan atau yang membaca) paham tentang sakinah, mawaddah, dan warrahmah itu sendiri? Jujur gue juga belum begitu paham makanya harus terus belajar dan mendapat bimbingan.

Apa parameter sakinah, mawaddah, warrahmah itu? Mungkinkah ketiganya bisa kita peroleh jika kita menikah tidak dengan landasan atau orientasi yang lurus? Atau dengan proses yang tidak diridhoi oleh-Nya? Barangkali hal seperti itu yang perlu terus dievaluasi dan perhatikan sehari-hari. Mau tidak mau kita terkungkung oleh keluarga, budaya, dan lingkungan. Pengaruhnya sangat kuat pada diri kita. Sesuatu yang penting kadang menjadi terabaikan…

Kebebasan berekspresi semakin bablas, namun Ironisnya tidak ditopang oleh norma Agama. Pergaulan menjadi bebas dan tak karuan… Ulama ditinggalkan tetapi Idola dikejar-kejar bahkan sampai jatuh bangun.

Satu hal yang menjadi harapan adalah semoga kita terhindar dari hal-hal yang negatif di sekitar kita.

perintah bagi istri

Tuhan pernah Berbisik

Ketika aku kirimkan padamu seorang teman ,
Aku tidak memberikan sesorang
yang sempurna karena engkaupun tak sempurna.
Aku mempertemukanmu dengan
teman-teman yang sama dengan mu ,
sehingga kalian dapat saling mengisi ,
berbagi dan bertumbuh bersama.

Jika kamu memancing ikan , ketika ikan
itu terikat di mata kail , hendaklah
angkat dan jagalah ia dengan baik.
Janganlah sesekali kamu lepaskan ia
begitu saja…. Karena ia akan sakit
oleh karena ketajaman mata kailmu.
Begitulah juga dalam kehidupan.
Janganlah kamu banyak memberi banyak
pengharapan kepada seseorang , bila
memang rasa itu tak pernah ada.

Ketika kamu menyukai seseorang dan ia
mulai menyayangimu , hendaklah kamu
bisa menjaga hatinya. Janganlah
sesekali kamu meninggalkannya begitu
saja. Karena ia akan terluka oleh
kenangan bersamamu dan mungkin tidak
dapat melupakan segalanya selagi dia
mengingat… ..

Jika kamu menadah air biarlah berpada ,
jangan terlalu mengharap pada
takungannya dan janganlah menganggap ia
begitu teguh , tapi cukupkan sebatas
apa yang kamu perlukan. Karena bila
sekali ia retak , akan sukar bagimu
untuk menjadikannya kembali seperti
semula. Akhirnya kamu akan kecewa dan
ia akan dibuang.

Begitu juga jika kamu memiliki
seseorang , terimalah seadanya.
Janganlah kamu terlalu mengaguminya dan
janganlah kamu menganggapnya begitu
istimewa. Anggaplah ia manusia biasa.
Sehingga apabila sekali ia melakukan
kesilapan maka akan lebih mudah bagi
kamu untuk menerima ketidak
sempurnaannya dan memaafkannya.
Berbagilah kasih , berusahalah saling
menerima dan peliharalah sifat mudah
memaafkan , dengan demikian
persahabatan menjadi lebih indah.

Jika kamu telah memiliki sepinggan nasi
yang pasti baik , putih dan sehat untuk
dirimu , mengapa kamu harus berlengah
dan mencoba mencari makanan yang lain ?
Begitu juga ketika kamu bertemu dengan
seorang yang membawa kebaikan kepada
dirimu , menyayangimu , mengasihimu
dengan tulus dan sepenuh hati , mengapa
kamu harus berlengah dan mencoba
membandingkannya dengan yang lain?.
Ingatlah , jangan pernah mengejar kesempurnaan ,
karena kelak , kamu akan kehilangan yang
terbaik yang sudah kau raih dan kamu
akan menyesal.

Ya Tuhan , terima kasih bisikan
indahmu. Aku mohon ya Tuhan , ketika
aku menyukai seorang teman , tolong
ingatkanlah aku bahwa di dunia ini tak
akan pernah ada sesuatu yang abadi.
Pada masanya , segala sesuatu itu pasti
akan berakhir. Sehingga ketika
seseorang meninggalkanku , aku akan
tetap kuat dan tegar karena aku bersama
Yang Tak Pernah Berakhir , yaitu cinta
mu ya Tuhan…

Orang bijak berucap Mencintai seseorang
adalah keharusan Dicintai seseorang
adalah kebahagiaan Tapi dicintai oleh
Sang Pencipta adalah segalanya.

Sumber : unknown

Artikel Terkait 


5 thoughts on “Pernikahan Versi Gue (2) “Cinta, Nikah, dan Keluarga”

  1. nice…tapi mau kritik yang puisi…judul ny ganti tuh judul puisi, juga paragraf ketujuh juga diganti…aq pernah baca sayang lupa link ny…kita tidak boleh me ‘manusiakan’ Allah SWT…manusia yg pernah di ‘bisiki’ diantaranya Nabi Musa AS….sungguh luar biasa bukan mereka yg mengaku pernah dibisiki Tuhan ^^

    1. Apa dong om? Itu ngambil dari aslinya soalnya… repotnya, author aslinya tuh puisi ane belum tau… Barangkali maksud “Berbisik…” disini makna kiasan bukan sesungguhnya…

    1. Iya mbak, saling belajar, saling menasehati, saling berbagi sehingga ilmu semakin luas, hidup semakin berkah… amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s