Cinta yang melebihi segalanya…

Ketika sore menjelang, sebuah bingkisan cerita hinggap di depan layar monitorku. Isinya pendek tetapi cukup memberikan hikmah. Cerita ini kudapatkan dari sebuah group facebook “Mukjizat Sholat dan Do’a”. Penasaran ingin tau kan? begini ceritanya. 

***

Suatu hari ada seorang ibu yang telah dua belas tahun mengarungi rumah tangga. Dia bercerita bahwa dirinya telah mengkayuhnya dengan susah payah. Bangunan rumah tangga yang dia bangun beserta suaminya di atas pondasi kasih sayang yang rapuh, mulai retak. Pernikahannya penuh dengan pertanyaan tiada akhir, benarkah dirinya adalah belahan jiwa dari suami yang dicintainya? Awalnya, di tengah usia yang semakin tua tanpa ada pilihan lain, dirinya terpaksa menikah dengan laki-laki yang datang melamarnya. Singkat cerita pernikahan pun dilaksanakan dengan sangat meriah.

Seperti halnya perngantin baru, kebahagiaan pun hadir setelah pernikahan diberlangsungkan. Namun, seiring dengan mengalirnya waktu, materi dan karier ternyata mampu mengubah seorang laki-laki suaminya. Semenjak bekerja dengan karier yang menanjak bagus. Kehidupan rumah tangganya mendadak berubah. Segala bentuk keresahan yang sering dirasakan tentang betapa ganasnya kota Jakarta menjadi sirna. Segalanya menjadi mudah. Dari kehidupan yang semula menempati rumah kontrakan yang bocor, sering tergenang banjir, dan kurang nyaman berubah menjadi menempati rumah yang lebih indah, lebih nyaman, dan lebih besar.

masalah cinta

Namun ternyata, hal itu tidak membuat ibu tersebut menjadi lebih bahagia. Bertolak belakang dengan kenyataan kondisi materi yang berlimpah. Hatinya ternyata menjadi sakit, penuh penderitaan, dan kesepian. Terlebih lagi setelah mengetahui bahwa suaminya dapat dengan mudah mendapatkan perempuan lain. Justru ketika rumahnya sudah tidak lagi bocor dan tergenang banjir. Rumah besar dan nyaman dibilangan elit di kota jakarta. Suaminya mengakui semua perbuatannya karena telah jatuh cinta pada perempuan lain dan mengaku bahwa hal itu semata-mata khilaf. Hati wanita mana yang tidak terluka mendengar pengakuan kekasihnya tersebut. Pupus harapannya, hancur lebur cintanya.

Di tengah penderitaan ibu tersebut, ada sebuah kesadaran bahwa apa yang telah terjadi dalam hidupnya seolah membukakan mata hatinya betapa lemahnya manusia dihadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. “Mas Agus, betapa tidak berdaya kita dihadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala..” ucapnya lirih ketika mencurahkan perasaannya kepada seorang sahabat yang bernama pak Agus. “Disaat saya begitu bangganya kepada suami, ternyata Allah menyentil saya agar mencintai Allah dengan sepenuh hati, melebihi cinta saya kepada suami. Ternyata Cinta suami adalah cinta yang ilusi sedangkan cinta kepada Allah adalah cinta yang hakiki.” lanjutnya, air mata ibu itu bagai bendungan yang sudah tidak mampu ditahannya. Mengalir dengan derasnya….

Di tengah penderitaannya yang mendalam, dia akhirnya berdoa bersama-sama dengan anak-anak yatim dibimbing oleh seorang ustadz pembimbing.

seorang ibu berdoa

Berbagi kasih dan kebahagiaan bersama anak yatim. Nampak wajahnya terurai airmata. Ada sebuah kelegaan sekaligus kedamaian. Tanpa terasa terucap puji syukur kehadirat Allah atas semua anugerahNya dan disaat itulah, keikhlasan menerima apapun kesalahan suami mencair di dalam hatinya. Malam itu bersama suami dan anak-anaknya, dia telah menemukan kembali kebahagiaan yang telah lama menghilang dalam hidupnya.

***

Berdasarkan kisah nyata ibu-ibu yang tak perlu disebutkan namanya tersebut, kita dapat mengambil pelajaran bahwa dalam memulai segala sesuatu, membangun apapun, ingin menggapai cita-cita, harapan, dan keinginan kita. Jangan sampai apa yang kita inginkan itu terlepas dari sandaran kita kepada Sang Maha Pencipta. Apa yang kita inginkan belum tentu yang kita butuhkan. Apa yang kita anggap baik, belum tentu benar-benar baik bagi kita. Hanya Dia yang tahu apa yang terbaik bagi hambanya. Kuncinya hanya satu yaitu totalitas, pasrah, tulus, ikhlas hanya demi mengharap ridhoNya. Kecintaan pada Allah harus melebihi kecintaan kepada makhluk. Aktivitas apapun jika niatnya ikhlas maka InsyaALLAH bisa bernilai ibadah. Apapun hasilnya, baik atau buruk jika itu karena Allah maka bisa mendapatkan pahala, asalkan ditempuh dengan jalan yang lurus dan benar yang Allah ridhoi.

Semoga kita bisa terus menerus menjaga niat kita dalam hidup. Hidup untuk ibadah, semata-mata ikhlas untuk mengharap ridho ALLAH. Semata-mata berlandaskan “Laa illaha illallah…Muhammadarrosulullah…”

InsyaALLAH.


2 thoughts on “Cinta yang melebihi segalanya…

  1. menjalani kehidupan dg ikhlas d mengharap ridho-Nya serta hanya dg mengingat-Nya hati menjadi tenang walaupn trkdang berat,

  2. alhamdullilah saya juga sudah menemukan cinta allah dengan sgala kejadian yg sudah saya alami
    allahlah sang penolong sejati.Aku sangat mencintaiNYA dengan segala ujian aku bisa melaluinya dengan iklas dan sabar trimakasih Allah atas segala yang telah engkau beri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s