Ngobrolin Komitmen yuk…

Masih hangat di benakku, hari Minggu yang lalu diadakan resepsi pernikahan Anang dan Ashanti yang begitu megah sampai ditayangkan khusus di salah satu stasiun swasta Indonesia, Jeremy Thomas sempat hadir dan dalam pernikahan itu sempat diwawancara perihal pernikahan Anang dan Ashanti. Dia memaparkan, “Hal yang paling sulit adalah berkomitmen dan bersatu dengan satu tujuan” (Jeremy Thomas).

Mencermati pernyataan Jeremy Thomas ini menggelitik dan membuat penasaran. Betulkan demikian? Apakah komitmen ini begitu sulit dan menakutkan? Terlepas berkomitmen terhadap apa? Kepada siapa? Atau isinya apa.

komitmen ibarat tali ikatan

Sebagai seorang muslim tentu harus banyak belajar dari berbagai peristiwa yang hadir di sekitar kita. Dari kenyataan ini, akhirnya saya mencoba mendalami tentang komitmen yang utama seorang muslim terhadap Islam. Mengapa harus komitmen ini yang dikaji? Karena komitmen ini yang menjadi landasan kita untuk komitmen yang lain, komitmen apapun yang lebih jauh.

Bagaimana sih komitmen seorang muslim terhadap Islam?

Saya teringat dengan tulisan ustadz H. Tate Qomaruddin Lc. yang membahas tentang komitmen muslim terhadap Islam dalam sebuah website: http://dompetsosialhidayah.com berikut liputannya. 

Komitmen Muslim Terhadap Islam

JUMAT, 07 OKTOBER 2011 13:39

Sudahkah kita berislam ?  Pertanyaan itu kadang perlu ditanyakan kepada setiap muslim yang telah mengakui kebenaran Islam dalam hati dan kehidupannya.  Untuk menjadi seorang muslim yang ideal masing-masing kita perlu memahami komitmen kita terhadap agama kita, Islam.

Mengapa kondisi ideal muslim harus dipahami dan setiap muslim wajib berusaha untuk mencapainya? Karena meskipun memang urusan final manusia adalah urusan surga atau neraka, akan tetapi manusia beriman punya misi dalam kehidupannya di dunia. Kalau pun bicara “hanya” urusan akhirat yakni surga dan neraka, maka misi manusia beriman adalah menyelamatkan  manusia sebanyak-banyaknya (onlyhadi: dakwah kali ya maksudnya) dari perbuatan yang menyebabkan masuk neraka agar menjadi orang-orang yang layak diterima surga.

Namun kenyataannya, Islam bukan agama akhirat saja melainkan agama dunia dan akhirat. Jadi kebaikan sempurna adalah kebaikan dunia dan akhirat. Mari camkan doa yang Allah ajarkan kepada kita dalam ayat-Nya,

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.”(QS Al Baqarah: 201)

Dalam doa yang diajarkan langsung oleh Allah swt  itu justru kita diperintah mengejar kebaikan dunia terlebih dahulu sebelum kemudian kebaikan di hari akhirat. Logikanya, kebaikan yang kita capai di dunia punya kekuatan untuk mengantarkan pada kebaikan di hari akhirat. Nah, itulah misi besar yang diembankan kepada manusia muslim selama hidup di dunia: mewujudkan hasanah (kebaikan) di dalam kehidupan dunia. Jadi misi besar manusia Muslim bukan hanya berurusan dengan hari akhirat melainkan juga dengan kehidupan dunia. Dan karena itulah dibutuhkan komitmen ‘sempurna’ dan ideal dari seorang Muslim kepada Islam. Seorang Muslim harus menjadi bagian dari umat yang layak menyandang predikat umat terbaik (khairu ummah). Tidak ada yang namanya khairu ummah jika tidak ada khairul-afrad (pribadi-pribadi terbaik).

Adalah kekeliruan besar jika ada orang yang mengatakan, “Kita ini sebagai Muslim, tidak apa-apa menderita di dunia yang penting di hari akhirat bahagia.” Kalimat ini sama dengan mengatakan, “Tidak apa-apa kita ditindas, dijajah, dizalimi, dan dipecundangi karena nanti kita akan masuk surga.”

Apa sajakah komitmen muslim terhadap agamanya?

Pertama, menjadi bagian dari Islam

Seseorang menjadi bagian dari Islam artinya menjadikan apa saja yang muncul dari dirinya, baik perasaan, pikiran, ucapan, gerakan, perbuatan, atau kinerja, sebagai pelaksanaan ajaran Islam. Dia menjadikan dirinya ‘etalase Islam’.yang memamerkan  segala keindahan dan kebaikan Islam. Siapa pun yang melihatnya dapat merasakan dan melihatnya.

Allah  akan melihat dan menilai apa yang menjadi pilihan manusia seperti perasaan, pikiran, ucapan dan perbuatan, dan bukan menilai apa yang menjadi kewenangan-Nya, seperti warna kulit, paras wajah, tinggi badan, bentuk tubuh.

Rasulullah saw menegaskan, “Sesungguhnya Allah tidak akan memandang (menilai) tubuh-tubuh kalian tidak pula bentuk-bentuk kalian melainkan akan memandang (menilai) hati-hati kalian dan amal-amal kalian” (HR Muslim).

Lebih dari itu, menjadi etalase Islam juga merupakan bagian dari dakwah dan menampilkan keindahan Islam agar manusia tertarik dengan Islam. Rasulullah saw adalah penampil Islam terbaik, “Adalah akhlak Rasulullah saw itu Al-Quran.” Karenanya banyak orang yang tertarik dengan perilaku Rasulullah saw bahkan sebelum beliau berbicara. Khalifah Ali bin Abi Thalib telah mengislamkan seorang Yahudi bukan dengan kata-kata apalagi pedangnya, melainkan dengan menampilkan keadilan yang diajarkan Islam dalam sebuah persidangan.

Sebaliknya, jika seorang Muslim menampilkan perilaku-perilaku yang tidak mewakili Islam maka secara sadar atau tidak dia telah berkontribusi—sedikit atau banyak—dalam menghalangi manusia dari jalan Allah (shaddun ‘an sabilillah). Ini merupakan salah satu problem besar umat Islam hari ini. Sejak jauh hari, seorang ulama mengutarakan, “Al-Islamu mahjubun bil-muslimin” (Islam terhalang oleh kaum Muslimin sendiri).
Kedua, menjadi bagian dari umat Islam

Setelah memastikan diri sebagai bagian dari Islam, komitmen seseorang kepada Islam juga dibuktikan dengan memosisikan dirinya sebagai bagian dari umat Islam.  Harun Yahya, ilmuwan Muslim kenamaan dewasa ini, mengatakan, “Islam berada di titik perkembangan pesat di Eropa. Perkembangan ini telah menarik perhatian yang lebih besar di tahun-tahun belakangan, sebagaimana ditunjukkan oleh banyak tesis, laporan, dan tulisan seputar ‘Kedudukan Kaum Muslim di Eropa’ dan ‘Dialog antara Masyarakat Eropa dan Umat Muslim’. Beriringan dengan berbagai laporan akademis ini, media massa sering menyiarkan berita tentang Islam dan Muslim.”

Jadi, di satu sisi kita berbahagia dan bersyukur, tapi di sisi lain kita boleh bertanya, sudahkah setiap Muslim memosisikan dirinya sebagai bagian dari umat Islam yang besar itu? Apakah setiap Muslim sudah memerankan dirinya sebagai anggota tubuh pada diri seseorang atau bagaikan komponen dalam satu bangunan, sebagaimana yang disebut Rasulullah saw dalam sabdanya?

 “Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, saling menyayangi dan saling berempati adalah bagaikan satu tubuh. Jika satu anggota tubuh itu merasakan sakit maka seluruh tubuh turut terjaga dan merasa demam” (HR Muslim).

Lalu, apa konsekuensi dari afiliasi kepada umat Islam itu? Konsekuensinya antara lain:

  1. menempatkan diri sejajar dengan Muslim lainnya, di bagian bumi mana pun mereka tinggal. Tidak ada perasaan lebih mulia atau lebih tinggi hanya karena perbedaan kebangsaan, ras, warna kulit, status sosial, harta atau parameter-parameter duniawi lainnya.
  2. menghormati dan menjaga kehormatan, harta, fisik dan jiwa Muslim lainnya. Artinya, kita tidak boleh menodai, melukai, merusak, atau merampas kehormatan, harta, fisik, jiwa sesama Muslim.
  3. menjauhkan sesama Muslim dari segala marabahaya. Orang yang merasakan dirinya sebagai bagian dari umat Islam akan merasa sakit dan menderita bila ada saudaranya yang mengalami kenestapaan, baik fisik maupun psikis. Oleh karena itu ia akan senantiasa berusaha menjauhkan segala sesuatu yang menyakitkan dari tubuh umat Islam. Sebaliknya, orang munafik–orang yang yang Islamnya hanya pura-pura–justru merasa senang manakala umat Islam mendapat gangguan dan petaka, dan merasa sedih jika umat Islam memperoleh kebahagiaan.  Seperti contoh saat ini ketika bangsa Palestina tengah berjuang untuk diakui kedaulatan dan eksistensinya sebagai negara yang berdaulat dan menjadi anggota PBB makaumat muslim wajib mendukung dan turut memperjuangkannya.
  4. menghadirkan solusi untuk berbagai persoalan yang dihadapi kaum Muslimin khususnya dan umat manusia pada umumnya. Kehadiran seorang Muslim hendaknya menjadi bermakna dan bukan menjadi beban bagi orang lain.

Ketiga, menjadi bagian dari perjuangan dan dakwah Islam
Islam dan perjuangan Islam hari ini tidak membutuhkan tambahan para pengamat, namun membutuhkan dai yang berjuang langsung dalam dakwah.  Umumnya pengamat hanya melihat Islam dan perjuangan Islam dari “kejauhan” atau dari luar. Karenanya, tidak sedikit pengamat yang mudah menyederhanakan persoalan atau menggeneralisir penilaian. Sehingga ada yang merasa bahwa saat ini kondisi ummat baik-baik saja dan tidak perlu ada upaya memperbaikinya.

Orang yang terjun langsung dalam liku-liku perjuangan dakwah akan melihat persoalan secara objektif dan merespons segala capaian, sekecil apa pun, dengan penuh rasa syukur. Bertambahnya orang yang dapat membaca Qur’an saja, dalam kacamata seorang pejuang, adalah sebentuk keberhasilan yang disyukurinya. Terlebih lagi keberhasilan memberi pengaruh dalam hal-hal yang terkait dengan kepentingan publik.

Esensi perjuangan Islam adalah i’laa-u kalimatillahi, menegakkan kalimat Allah. Maknanya adalah segala upaya yang ditujukan untuk menjadikan ajaran Islam sebagai rujukan dalam setiap sendi kehidupan. Dan dakwah adalah upaya mengajak orang ke arah itu.

Mengajak orang lain kepada kebaikan akan mendorong pembersihan jiwa (tazkiyatunnafs)
Saat kita mengajak orang lain kepada kebaikan, kita akan selalu berusaha untuk menjadi seperti yang kita serukan. Sungguh, itu karunia yang luar biasa.

Saat berdakwah kita meyakini firman Allah swt, “Hai orang-orang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqan dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahan dan mengampuni (dosa-dosa) mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar” (QS Al-Anfal [8]: 29).

Inilah sebuah dorongan dalam diri kita.

Jika Rasulullah saw bersabda, “Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang menegakkan kebenaran. Mereka tidak terganggu oleh orang-orang yang menghinadinakan mereka, tidak pula oleh orang yang menentang mereka, hingga datang kemenangan dari Allah dan mereka tetap (konsisten) dalam keadaan demikian.” Jika Rasul bersabda demikian, adakah kita termasuk di dalamnya?

Demikianlah komitmen seorang muslim terhadap agamanya, semoga kita semua diberi kekuatan untuk menjadi bagian dari barisan orang-orang yang berkomitmen terhadap Islam.  Amiin.

Disadur dari tulisan ust Tate Qomaruddin.

————————————————————

Oh ternyata begitu toh yang namanya komitmen kita sebagai seorang muslim. Ternyata sangat mulia sekali. Berarti jika disimpulkan ada tiga point umum yang menjadi komitmen seorang muslim: Pertama, menjadi bagian dari Islam, Kedua, menjadi bagian dari umat islam, dan yang ketiga menjadi bagian dari perjuangan dan dakwah Islam.

Apakah berat? Pada akhirnya tergantung dari persepsi kita masing-masing, bisa berat jika hanya diam dan tidak mau berproses, namun bisa ringan jika dijalankan, diamalkan, dan senantiasa berproses. Apapun kondisi kita saat ini (baik maupun buruk) yang namanya perbaikan diri kan harus dimulai. Bukan besok, nanti, atau kapan… tetapi mulai dari saat ini. Karena tak ada jaminan bahwa kita akan tetap bernapas beberapa saat kemudian.

Dalam banyak kajian ilmu, beberapa ulama mengatakan bahwa

Iman adalah pembenaran dengan hati, perkataan dengan lisan dan pengamalan dengan anggota tubuh dan amal perbuatan nerupakan bagian dari iman.

Komitmen ini tentu saja identik dengan iman, tak sebatas kata atau do’a tetapi harus dibenarkan dalam hati dan dibuktikan dalam karya nyata.

Semoga kita kembali tersadarkan atas hal ini. Berani untuk melangkah dan berubah ke arah yang lebih baik dan memiliki komitmen yang kuat kepada Islam.  Amin.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s